GPdI Hebron

Gading Serpong

Logo GPdI Hebron

GPDI Hebron Gading Serpong

Gambar Article

KATEGORI



ARTIKEL POPULER



ARSIP

DEWASA ROHANI = KASIH YANG BERKENAN


Oleh : Pdt. Raimond Sumaa 

Ayat Pokok : Matius 22:34-40 


Inti dari kedewasaan rohani adalah berbicara tentang kasih Agape. Orang yang dewasa rohani adalah orang yang mandiri secara spiritual dan menjadi berkat bagi orang lain dengan kasih Agape. Definisi sederhana dari mengasihi seseorang adalah menikmati pergaulan dengan orang tersebut. Matius 22:34-40 menegaskan tentang hukum yang terutama yang harus kita lakukan berkaitan dengan mengasihi, yaitu : mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan dengan segenap akal budi; serta mengasihi sesama manusia seperti dirimu sendiri. Ini adalah hukum yang harus hidup dalam perjalanan kekristenan kita; artinya kita tidak bisa mengaku mengasihi Tuhan jika kita tidak mengasihi sesama kita. Adalah tidak benar jika kita sudah beribadah, melayani, berkorban, dsb, tetapi kita tidak mau berbuat kasih kepada orang lain. Jadi, orang yang mempunyai kasih adalah orang yang dewasa di dalam Tuhan.


Lukas 10:25-37 memberi gambaran tentang orang yang mengasihi sesamanya. Ketika ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Siapakah yang mau menolong dan berbelas kasihan kepada orang tersebut? Bukan seorang imam atau seorang Lewi, tetapi seorang Samaria yang murah hati. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Berdasarkan kisah ini, ada dua hal yang Tuhan kehendaki agar kita melakukannya, yaitu :


•Kita harus berbelas kasihan/berkorban, tetapi bukan berkorban sesuai dengan apa yang kita mau saja, tetapi berkorban sampai memuaskan/berkenan di hati Tuhan.

Dalam kisah tersebut, orang Samaria yang murah hati itu telah berbelas kasihan kepada sesamanya, ia berkorban bukan menurut apa yang ia sukai saja, tetapi berkorban sampai memuaskan hati orang yang ia tolong. Orang yang seperti inilah yang berkenan di hati Tuhan. Level kasih yang terdalam seperti inilah yang Tuhan mau, dan level seperti ini hanya dapat ditemukan pada orang yang sudah dewasa rohani. Hal ini penting untuk kita pahami, sebab banyak orang percaya yang memberi/berkorban hanya untuk memuaskan hatinya sendiri (memberi menurut apa yang ia mau) sehingga tidak pernah berkenan kepada Tuhan. Akibatnya, ketika jawaban doa tidak didapat, ia berani menuntut kepada Tuhan dengan alasan bahwa ia sudah berkorban. Ketika kita memberi/berkorban buat Tuhan dan kita menuntut Tuhan agar berbuat baik kepada kita, itu tandanya bahwa apa yang kita beri itu hanya untuk memuaskan hati kita, bukan untuk menyenangkan hati Tuhan. Jadi, berbicara tentang apa yang berkenan kepada Tuhan, bukanlah tentang berapa besar atau berapa banyak, tetapi tentang bagaimana kita memuaskan hati Tuhan.


Bandingkan hal berkorban yang berkenan kepada Tuhan dengan 1 Korintus 13:1-3 tentang kasih. Ada banyak kehebatan/kepintaran manusia yang dapat dibanggakan, tetapi semuanya itu tidak ada gunanya jika tidak disertai dengan kasih. Jadi, persembahan/berkorban yang berkenan kepada Tuhan adalah persembahan yang disertai dengan kasih. Secara sederhana, kasih adalah sebuah ketulusan/kemurnian yang diberikan kepada Tuhan. Gambaran tentang kasih itu dijelaskan dalam 1 Korintus 13:4-7, yaitu Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Untuk itu, jika kita mau berkorban, pastikan di dalam hati kita ada kasih yang tulus.


•Kita harus memberkati orang yang terhilang.

Seorang yang dewasa di dalam Tuhan adalah orang yang punya hati seperti Tuhan, yaitu yang selalu rindu mencari dan menyelamatkan orang yang terhilang. Sebagaimana yang dilakukan oleh orang Samaria yang murah hati, ia menolong orang yang dirampok itu sampai sembuh. Mengapa kita harus memberkati orang yang terhilang? Karena ada banyak orang yang punya kebiasaan/memiliki kecenderungan untuk mengutuk sesamanya daripada memberkati. Sepertinya mereka lebih senang melihat hidup orang lain dalam keadaan yang tidak baik/terpuruk. 2 Korintus 4:4 menjelaskan adanya orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini (iblis). Mengapa pikiran manusia bisa dibutakan oleh iblis? Karena pikirannya lebih banyak dicerca dengan perkataan kutuk daripada perkataan berkat. Selama perkataan kutuk terus menerus mencerca orang, maka ikatan iblis akan semakin kuat dalam diri orang tersebut, sampai ia tidak bisa percaya kepada Tuhan. Tetapi jika perkataan berkat yang disampaikan untuk memberkati, maka hati orang berdosa akan melunak. Artinya, semakin kita menjadi berkat bagi orang lain, maka cengkraman iblis akan lepas dari hidup mereka.


Perhatikan Matius 5:44, Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Kepada mereka yang menjadi musuh kita dan yang menganiaya kita, Tuhan perintahkan kita agar berdoa bagi mereka, apalagi kepada suami/istri/anak/saudara/gembala/jemaat. Penerapan dari kasihilah musuhmu adalah memberkati hidup mereka. Selama kita belajar untuk memberkati orang lain, berarti kutuk akan hilang dengan sendirinya. Sebaliknya, jika kita terbiasa melepaskan perkataan kutuk, maka berkat tidak akan datang. Cara kita memberkati orang lain adalah dengan berbicara sopan, menguatkan, dan memuji.


Perhatikan perkataan Yesus dalam Yohanes 20:19-20, ketika setelah kebangkitanNya, IA menampakkan diri kepada para muridNya : "Damai sejahtera bagi kamu!" Perkataan Yesus yang disampaikan adalah perkataan berkat. Meskipun para murid telah menunjukkan sikap pengecut/meninggalkan Yesus ketika IA disalib, bahkan ada yang menyangkalNya; tetapi kepada mereka semua Tuhan tidak mengeluarkan perkataan kutuk atau amarah. Dalam hal ini, Yesus telah memberkati mereka (murid-murid) yang terhilang; IA kunjungi murid-murid satu per satu dengan perkataan yang sopan, menguatkan, dan memuji. Terkadang kita terlalu mudah untuk menghakimi dan mengeluarkan perkataan kutuk ketika ada orang yang berbuat salah; sehingga orang itu benar-benar menjadi terhilang. Untuk itu, kita harus sadari bahwa penghakiman itu hanya milik Tuhan, dan kita tidak punya hak untuk menghakimi. Bagian/tugas kita adalah mencari yang terhilang. Belajarlah mengeluarkan perkataan yang sopan, menguatkan, dan memuji bagi diri kita sendiri (supaya kita menjadi semakin kuat di daam Tuhan) dan bagi orang lain (supaya mereka bersukacita dan dapat dimenangkan untuk kemuliaan Tuhan).


Efesus 4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. Maksud dari perkataan kotor bukanlah sekedar makian tetapi perkataan kosong/sia-sia atau perkataan sampah yang tidak ada gunanya. Mari jaga perkataan kita, jangan sampai orang lain jatuh/terguncang jiwanya karena perkataan kita. Gunakanlah kata-kata yang membangun, sebab orang yang dewasa rohani diukur dari kualitas bicaranya. Kolose 3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.


Haleluya. Tuhan Yesus memberkati kita semua.



KATEGORI



ARTIKEL POPULER



ARSIP